Teknologi sederhana meningkatkan produktifitas buah naga

Buah naga kian digemari masyarakat baik untuk konsumsi sendiri maupun dijadikan parcel. Bahkan saat ini mulai banyak varietas buah naga dengan manfaat serta kualitas yang jauh lebih unggul. Luas kebun buah naga pun semakin luas seiring bertambahnya kebun-kebun buah naga, namun kendala yang dialami petani buah naga di Indonesia adalah produktifitas yang rendah dibanding dengan kebun buah naga di Vietnam.

Indonesia yang terletak di equator sebenarnya memiliki keuntungan dalam hal produktifitas bauha naga, dimana disisi utara kebun buah naga akan berproduksi sepanjang tahun dan disebelah selatan equator akan berproduksi hanya 1 semester dalam seetahun, untuk daerah selatan equator untuk meningkatkan produktifitas ada beberapa inovasi para petani naga di pulau jawa sebagai berikut:

  1. Sambung Stek

Beberapa inovasi budidaya buah naga juga terus dikembangkan yang bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi. salah satunya dilakukan oleh Asroful Uswatun, di Desa Sidomulyo, Kab. Jember, Jawa Timur. Demi menyelamatkan 1.200 tanaman buah naga kuning yang terserang busuk batang, Asroful pun melakukan teknik sambung (menempelkan batang bawah) buah naga merah ke batang buah naga kuning miliknya. Dengan teknik itu, akhirnya budidaya buah naga Asroful mampu terselamatkan sekitar 800-an tanaman dan dapat tumbuh subur.

Menurut Asroful, selang 3 minggu penyambungan, tanaman buah naga tak disangka-sangka sudah mulai tumbuh sulur dan berbunga. Padahal biasanya perlu waktu kurang lebih 2 tahun. Dalam waktu satu tahun tanaman buah naga sudah mulai berbuah. Ia pun mampu memanen rata-rata 27 buah tiap tanaman, dan bobot buah berkisar kurang lebih 225 gram. Jika ditaksir, maka 1 tanaman buah naga menghasilkan 6,5 kg buah per tanaman.

  1. Teknologi penyinaran lampu

Biasanya buah naga dibudidaya dengan cara stek atau penyemaian biji. Tanaman akan tumbuh subur jika media tanam atau tanah yang tidak becek, kaya akan unsur hara, berpasir, cukup sinar matahari dan bersuhu antara 38-40 °C. Jika perawatan cukup baik, tanaman akan mulai berbuah pada umur 11 – 17 bulan. Buah naga sangat adaptif dibudidaya di berbagai daearah dengan ketinggian di 0 –1200 meter dpl. Hal terpenting adalah mendapatkan sinar matahari yang cukup merupakan syarat pertumbuhan buah naga merah.

Masyarakat banyuwangi juga memiliki keunikan tersendiri untuk meningkatkan produktivitas buah naga. Mereka menggunakan bantuan sinar lampu saat malam hari. Hal tersebut menjadi inovasi daerah untuk para petani buah naga Banyuwangi. Dalam perkembangan bunga buah asal Meksiko tersebut membutuhkan sinar matahari selama 12 jam, sedangkan matahari dalam sehari hanya mampu memberikan sinarnya sekitar 9 sampai 10 jam. Dari hal itulah masyarkat banyuwangi  memakai bantuan sinar lampu, untuk meningkatkan perkembangan bunga.

Menggunakan lampu 5 sampai 15 watt-an yang berwarna kuning para petani menyinari pohon buah naga. Kawat- kawat diikatkan pada setiap pohon rambatan buah naga, sehingga menghubungkan satu pohon dengan pohon yang lain. Lalu bola lampu ditaruh diantara dua pohon buah naga. Satu buah bola mampu dapat menyinari dua buah pohon buah naga. Sekitar pukul 18.00 WIB saat sinar matahari sudah terbenam, bola- bola lampu mulai dinyalakan. Kondisi desa yang biasanya sepi menjadi terkesan ramai oleh nyala lampu-lampu buah naga.

Dari menggunakan teknologi sederhana seperti sinar lampu, mampu meningkatkan produktivitas buah naga di Banyuwangi. Terbukti produksi buah naga di Banyuwangi menunjukkan peningkatan yang pesat. Tahun 2014 mencapai 28.819 ton dengan luas lahan 1.152 hektar meningkat dibanding tahun 2013 yang hanya 16.631 ton dengan luas lahan yang hanya 678 hektar. Sementara produktivitas buah naga di Banyuwangi pada tahun 2014 sebesar 250 kw/ha, juga meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 245 kw/ha.

Dengan menggunakan bantuan sinar lampu seperti itu diharapkan dapat menjadi sebuah kabar baik untuk para petani buah naga di daerah lain, untuk meningkatkan produktivitas tanaman buah naganya. Jika hal tersebut di terapkan bisa jadi musim buah naga aka nada setiap waktu, dapat di bilang tidak ada masa musim buah naga. Karena setiap saat buah naga dapat berbuah. Kebutuhan pasar akan buah naga juga dengan mudah dapat terpenuhi. Bisa juga dengan tingginya produksi buah naga dalam negeri, buah tersebut dapat di ekspor keluar negeri sehingga dapat meningkatkan perekonomian untuk Indonesia.

  1. Teknologi Tiang bertingkat

Lain lagi dengan Pak Nanang Dwi Wahyono petani buah naga di jawa Timur ini melakukan inovasi selain penggunaan lampu juga tiang bertingkat untuk meningkatkan produktifitas kebuh buah naganya, jadi dalam satu tiang ada 2 tingkat  tanaman buah naga dengan satu tiang ada 8 bibit buah naga yang ditanam.

Teknologi ini mampu meningkatkan produktifitas buah naga pertiang sekitar 30-40 %,  dengan gabungan penyinaran  lampu dr pukul 21.00-02.00 dan tiang bertingkat produktifitas kebunya bisa sepanjang tahun dan produksi naik 2 kali lipat. Tentunya dengan didukung pemupukan dan perawatan yang baik….anda tertarik mencobanya?

Nara Sumber : Ibu Asroful Uswatun, Pak Nanang dwi Wahyono

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s