Cara Menanggulangi Stem Cancer Pada Tanaman Buah Naga

penyakit-buah-naga-stem-cancerSeiring dengan semakin meluasnya penanaman buah naga di Indonesia ternyata juga diikuti dengan terjadinya outbreak hama dan penyakit yang setiap saat dapat mengancam usaha pengembangan tersebut. Beberapa surat maupun SMS yang masuk ke Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) menginformasikan terjadinya ledakan penyakit tanaman buah naga di beberapa daerah sekaligus meminta saran penanggulangannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika pada tahun anggaran 2013 sedang melaksanakan kegiatan penelitian pada komoditas buah naga ini, salah satunya adalah melakukan survei terhadap hama dan penyakit di beberapa daerah pengembangan di Indonesia seperti di Provinsi Sumatera Barat, Kepulauan Riau dan DIY.

Gejala penyakit pada buah nagaSurvei pengumpulan data hama dan penyakit telah dilakukan pada tanggal 4 – 9 Juni 2013 oleh tiga orang peneliti di Propinsi Kepri : Ir. Irwan Muas, MP, Dra Jumjunidang, MP dan Riska, SP. Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pertanian Tk I Provinsi Kep. Riau, kabupaten yang dijadikan sentra pengembangan buah naga adalah Kab. Bintan dan daerah Otorita Batam. Berdasarkan data tersebut maka survei dilakukan pada dua daerah tersebut. Selama pelaksanaan survei tim peneliti Balitbu Tropika didampingi oleh peneliti dari Loka PTP dan Kasi Perlindungan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Bintan. Kecamatan yang didata di Kab. Bintan adalah kecamatanToapaya, Sri Kuala Lobam dan Gunung Kijang. Pada masing-masing kecamatan dilakukan pengamatan dan pengambilan sampel tanaman sakit pada beberapa kebun. Hasil pengamatan diinformasikan bahwa semua kebun yang dikunjungi terserang oleh penyakit dengan kriteria sedang – parah.  Sebanyak 80% kebun yang didata, serangan penyakit sudah sangat parah bahkan kebun-kebun tersebut sudah tidak dipelihara lagi dengan semestinya bahkan sudah ditinggalkan. Beberapa kebun yang masih berproduksi dilaporkan produksi menurun sampai 80%,  buah yang dihasilkan kualitasnya tidak maksimal dan kurang bisa diterima pasar karena dipenuhi oleh bercak penyakit. Kebun pengembangan Buah Naga oleh Dinas Pertanian Kab. Bintan seluas 16 ha juga hancur dan sebagian sudah dieradikasi dan ditanamani kembali dengan bibit yang didatangkan dari daerah Jawa.

Pertanaman buah naga milik Dinas Pertanian Kab. Bintan (16 ha) yang sudah dieradikasi dan ditanamani kembali dengan bibit baru (kiri)
dan serangan parah HPT di kebun milik petani di Setoko (kanan)

Di daerah Batam kecamatan yang didata adalah Kecamatan Setoko dan Sembulang. Di Kecamatan Setoko jumlah kebun yang dikunjungi/didata 10 kebun dengan luasan 1 – 16 ha. Di kecamatan Sembulang jumlah kebun yang dikunjungi/didata adalah sebanyak 12 kebun dengan luasan 1 – 5 ha. Sama halnya dengan di kabupaten Bintan serangan HPT juga menghancurkan kebun buah naga di daerah Batam. Lebih 80% kebun tersebut sudah tidak dipelihara dan sudah ditinggalkan. Kebun milik PT Pelangi Nusa Agro seluas 16 ha yang baru berumur 2 tahun juga mulai diserang oleh HPT dengan kriteria ringan – sedang. Telah dilakukan koleksi sampel tanaman sakit pada kebun yang dikunjungi. Saat ini isolasi terhadap sampel tanaman sakit sedang dilakukan pada media biakan di laboratorium proteksi tanaman   Balitbu Tropika.

Pertanaman buah naga milik PT. Pelangi Nusa Agro umur 2 th
dii Kec Setoko Batam dengan serangan HPT ringan

 

Serangan hama dan penyakit pada buah naga

Berdasarkan gejala serangan yang kami amati di lapangan dan hasil isolasi sementara ada beberapa hal yang kami sarankan untuk mengurangi perkembangan penyakit antara lain :

  1. Lakukan monitoring/pemantauan kebun/tanaman secara ketat, jika gejala awal serangan penyakit busuk batang/bercak batang/bintik putih dan merah pada tunas muda ditemukan, segera lakukan eradikasi dengan cara : buang bagian yang bergejala, lakukan pengerokkan sampai ke bagian berkayu dari batang. Biasanya kalau gejala penyakit baru muncul bagian berkayu dari batang ini masih hijau (tidak ikut membusuk). Setelah itu semprot bagian batang berkayu bekas pengerokan tadi dan bagian batang di sekitarnya dengan fungisida dan bakterisida penyemprotan dengan fungisida dan bakterisida dilakukan secara berkala  (setiap minggu).
  2. Gunakan fungisida secara bergantian (sistemin dan kontak). Salah satu fungisida yang disarankan adalah fungisida Bubur Bordo. Bubur Bordo (BB) dapat kita buat dari terusi, kapur dan air (1:1:100 b/b/v). Terusi dan kapur ditumbuk sampai halus, supaya mudah larut di dalam air yang dingin lalu semprotkan ke seluruh bagian tanaman.
  3. Bagian tanaman yang busuk bekas pemotongan dikumpulkan dikubur atau dibakar supaya tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman lainnya.
  4. Kurangi cabang untuk mengurangi kelembaban. Udara lembab dan panas akan memicu perkembangan penyakit.
  5. Penyakit busuk batang dapat diperparah dengan adanya serangan hama kutu sisik pada batang. Lakukan penyemprotan dengan insektisida secara berkala untuk mengurangi kutu sisik dan hama lainnya. Gunakan beberapa insektisida secara berselang seling untuk mengurangi resistensi hama.
  6. Tindakan pengendalian ini berhasil dilakukan oleh seorang petani buah naga di kabupaten Solok, dari kunjungan di kebun tersebut  persentase serangan penyakit busuk batang ini sangat rendah dan tidak terlalu mengganggu produksi.
  7. Lakukan budidaya tanaman sehat dengan melakukan pemupukan (organik dan anorganik), penyiraman dan sanitasi lahan secara rutin.

Pestisida Buatan Sendiri: Bubur Bordo (Bordeaux)

Bubur bordo atau Bordeaux adalah salah satu pestisida  yang bisa dibuat sendiri. Pestisida ini sudah dikenal sangat lama dan terbukti manjur untuk mengatasi serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur.

bubur-bordo-1

Bahan-bahan:

  1. ¼ Kg Gamping/Kapur
  2. ¼ Kg Belerang
  3. ¼ Kg Prusi atau terusi atau CuSO4
  4. Air 6 liter

Alat-alat:

  1. Ember dua buah
  2. Panci
  3. Kompos
  4. Lumpang/ulekan

bubur-bordo-2Cara membuat:

  1. Masukkan prusi ke dalam ember.
  2. Haluskan gamping dan belerang jadi satu, kemudian dimasukkan ke dalam ember kedua
  3. Rebus 6 liter air sampai mendidih.
  4. Masukkan 3 liter air mendidih ke dalam ember satu yang berisi trusi. Aduk hingga tercampur merata.
  5. Masukkan 3 liter air mendidih sisanya ke dalam ember ke dua. Aduk hingga tercampur merata.
  6. Satukan masing-masing adonan dan diaduk sampai merata.
  7. Diamkan adonan semalaman hingga terbentuk cairan bening dan ada endapannya.
  8. Ambil cairan yang berwarna bening dan gunakan untuk menyemprot daun tanaman yang terserang penyakit.
  9. Endapan bisa digunakan untuk dicampurkan dengan media tanam.

di-aduk-2

di-adukCara Aplikasi:

  1. Dosis penyemprotan adalah 50 sampai 70 ml per tangki (14 liter), atau satu gelas aqua untuk tiga tangki penyemprot.
  2. Semprotkan secara merata ke tanaman yang terserang penyakit.
  3. Interval penyemprotan seminggu sekali

penyemprotan-buah-nagaPERHATIAN:

Pakailah pestisida ini secara bijak. Jangan menggunakannya secara berlebihan. Penggunaan berlebihan akan menyebabkan penyakit menjadi tahan terhadap pestisida.

Terima kasih :
Dra. Jumjunidang, MP, Ir. Irwan Mu’as, MP dan Riska, SP

Sumber: http://balitbu.litbang.pertanian.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s