Dipertan TPH Grobogan, Berhasil Budidayakan Bawang Merah dengan Biji

panen_bawang_brooDinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortulkutura (Dipertan TPH) Grobogan menorehkan hasil yang membanggakan setelah berhasil mengembangkan penanaman komoditas bawang merah melalui sistem true shallot seed (TSS). Yakni, metode penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah yang diseleksi dari hasil panen.

Pengembangan bawang merah dengan cara TSS itu dilakukan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortulkutura (Dipertan TPH) Grobogan bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng. Adapun kelompok tani Margo Soto di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo dipercaya untuk mengembangkan budidaya bawang merah dengan metode baru tersebut.

varietas-bawang-merah
varietas-bawang-merah

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang harus tersedia sepanjang tahun. Kebutuhan masyarakat akan bawang merah terus meningkat, namun tidak sebanding dengan ketersediaanya di lapang. Budidaya bawang merah tergolong sulit, hal ini disebabkan serangan hama penyakit yang relatif tinggi dibanding dengan komoditas lain. Kegagalan panen masih sering terjadi. Kondisi inilah yang mengharuskan adanya terobosan teknologi pertanian untuk mengatasinya.

Pemerintah terus berupaya mengadakan terobosan dalam rangka meningkatkan ketersediaan bawang merah di masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan tanam bawang merah asal biji. Teknologi ini berhasil menekan serangan penyakit yang biasa terbawa oleh benih umbi. Selain itu, tanam bawang merah asal biji juga mampu meningkatkan produktivitas.

tanam-dari-biji
tanam-dari-biji

Penanaman bawang merah yang dilakukan kelompok tani tersebut sudah dimulai sejak bulan April lalu. Pada hari Kamis (30/7) dilakukan panen di lokasi dempot yang total arealnya seluas 4 x 25 meter. Ada tiga varietas bawang merah yang ditanam dengan biji. Yakni, varietas Tuktuk, Bima, dan Trisula dengan hasil ubinan rata-rata sebanyak 5 kilogram per meter persegi.

“Uji coba penanaman bawang merah memakai metode TSS sudah dilakukan beberapa kali. Namun, baru di Grobogan ini yang berhasil dengan baik dan keberhasilan ini pantas mendapat apresiasi tinggi,” ungkap Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng Moh Ismail Wahab didampingi Kepala Dipertan TPH Grobogan Edhie Sudaryanto saat menghadiri panen bawang merah di Desa Brabo, Kecamatan Tanggungharjo tersebut.

tanam-dari-biji-2
tanam-dari-biji-2

Menurut Wahab, penanaman model TSS itu merupakan sebuah langkah terobosan untuk menjaga produksi bawang merah secara nasional. Upaya itu dilakukan lantaran di daerah sentra bawang merah, seperti Kabupaten Brebes sudah mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terjadi, lantaran umbi bawang merah yang dijadikan benih petani banyak mengandung penyakit.

“Kalau benihnya sudah ada penyakit maka ketika tumbuh tidak bisa maksimal lantaran rentan hama pada tanaman. Untuk itu, petani akhirnya terpaksa menggunakan pestisida berlebihan untuk menekan hama penyakit,” jelasnya. DNA

Berawal dari besarnya biaya pengiriman dan volume yang besar, para peneliti pun mencari solusi memangkas benih bawang merah, baik dari segi volume maupun harga. Benih bawang merah pun ‘disulap’ menjadi biji.

penyemain biji
penyemain biji

Teknologi menanam bawang merah dengan biji kini menjadi salah satu alternatif bagi petani. Bahkan untuk mengatasi persoalan kontinuitas produksi bawang merah nasional yang sangat tergantung pada musim.

Bibit Umbi
Bibit Umbi

Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Kementerian Pertanian, Liferdi mengatakan, pengembangan budidaya bawang merah dengan biji memang berawal dari keluhan pelanggan. Misalnya, pengalaman tahun 2004, produsen di Papua memesan benih bawang merah sebanyak 60 kg. Apa yang terjadi, ternyata ongkos kirimnya mencapai Rp 6,7 juta.

“Biaya yang tinggi tersebut dikeluhkan mereka,” kata Liferdi saat Temu Lapang Pengembangan Perbenihan Bawang Merah True Shallot Seed (TSS) di Desa Loka, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel), beberapa waktu lalu.

siap panen
siap panen

Selain mahalnya biaya pengiriman, permasalahan lainnya adalah untuk memproduksi umbi bawang merah sangat tergantung musim. Padahal masa simpan benih bawang merah hanya tiga bulan. “Karena itu kini kita kembangkan budidaya bawang merah dengan biji,” ujarnya.

Kelebihan biji dibandingkan umbi bawang merah adalah daya simpan yang bisa mencapai satu tahun. Bahkan untuk perbenihan juga masih bagus. “Ini suatu solusi sehingga kita berharap permasalahan bawang merah secara nasional bisa diatasi dengan teknologi budidaya bawang merah dari biji,” katanya.

Menurut Liferdi, pihaknya sudah mulai memperkenalkan teknologi budidaya bawang merah dengan biji ini ke petani. Bahkan responnya juga cukup baik. Namun diakui, tidak mudah mengubah kebiasaan petani yang selama ini menanam dengan umbi.

sukses-dengan-biji
sukses-dengan-biji

Jadi ungkapnya, ada dua hal yang menjadi perhatian. Pertama, teknologi pembentukan biji memang masih tahap pembelajaran. Sebab, tidak semua orang bisa melakukan. Karena dari biji prosesnya membuat umbi mini. Setelah umbi mini siapa saja bisa mengembangkan. “Karena itu kita akan kawal proses transfer knowledge untuk menghasilkan biji. Lalu dari biji ke umbi mini,” katanya.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) hingga kini sudah melepas 23 varietas bawang merah. Dari jumlah tersebut, 21 varietas umbi dan dua khusus dari biji. Dari 21 umbi, ternyata ada yang memiliki potensi dikembangkan menjadi biji yakni varietas Trisula dan Bima.

panen..panen
panen..panen

Sementara itu Rini Rosliani, Peneliti Madya Budidaya Sayuran, Balitsa mengatakan, sebetulnya produksi True Shallot Seed (TSS) optimalnya pada musim kemarau, karena untuk menghindari hujan. Sebab salah satu kelemahan memproduksi TSS adalah bunga bawang tidak tahan terhadap air hujan dan bisa busuk.

Apalagi menurut Rini, untuk memenuhi syarat mutu, salah satunya adalah kadar air biji bawang merah harus kering 7%, sehingga bisa disimpan lama. Jika kadar airnya masih tinggi, maka daya simpan menjadi tidak lama. Daya berkecambahnya juga akan turun.

Tahap Hasilkan Benih

trisula
trisula

Menurut Rini, produksi bawang biji saat ini masih sebatas untuk menghasilkan benih umbi. Sebab dengan memproduksi biji akan menghemat dalam distribusi ke daerah. Kalkulasinya, jika distribusi dalam bentuk umbi dengan volume cukup banyak, maka akan memerlukan biaya yang sangat besar.

Misalnya salah satu perusahaan benih yang memproduksi biji bawang merah Tuktuk dengan harga Rp 1,9 juta/kg. Jika 1 ha memerlukan 5 kg biji, maka diperlukan biaya hingga Rp 10 juta/ha. Sebaliknya, kalau umbi harganya untuk menanam 1 ha diperlukan 1,2-1,5 ton. Jika harganya Rp 25 ribu/kg, maka biaya dikeluarkan bisa mencapai Rp 30-40 juta/ha. Belum ditambah ongkos kirim benih yang biayanya juga cukup mahal.

“Jadi untuk distribusi biji lebih efisien bisa dijinjing tidak seperti umbi,” ujarnya. Hasil umbinya lanjut Rini, juga lebih banyak. Hanya saja membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan.  Namun saat ini produksi biji bawang masih sebatas untuk benih.

Tapi di lapangan Rini mengakui, ternyata petani ada yang langsung untuk memproduksi bawang konsumsi. Namun dia menilai, sayang. Meski secara ekonomis mungkin petani sudah menghitung lebih untung, tapi pihaknya tetap memprioritaskan produksi bawang merah dari biji untuk benih terlebih dahulu. “Sebetulnya bisa saja dibuat untuk ke umbi dan dijual konsumsi. Tapi kalau untuk ke konsumsi langsung sebaiknya jangan dulu,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Karocia Jeneponto, Ahmad mengakui, awalnya kesulitan tapi dengan arah peneliti, dirinya bisa melakukan budidaya bawang merah dengan biji. Namun menurut Ahmad, kendalanya adalah kondisi iklim kering dan angin kencang. “Kencangnya angin seringkali merusak bahkan merobohkan naungannya. Jadi kami harus berkali-kali memperbaiki,” ujarnya.

stok-bibit-biji-bawang-merahLahan bawang merah Poktan Karocia sekitar 15 hektar. Petani anggota Poktan kini menanam bawang merah varietas Trisula dengan biji. Dibandingkan varietas lokal, varietas Trisula lebih banyak peminatnya di pasar. Kelebihan lainnya lebih tahan penyakit, umbinya disukai konsumen karena agak harum, warnanya juga agak merah dan ukurannya tidak terlalu besar.

panen_bawang_brooProduktivitasnya juga lebih banyak. Jika varietas lokal perbandingannya maksimal 1:7 yakni tiap 100 kg maksimal panen sebanyak 700 kg. Namun untuk varietas Trisula 1:9 atau tiap 100 kg menghasilkan 900 kg. Kebutuhan bibitnya juga tidak banyak. Jika dari umbi mencapai 1 ton bibit/ha, maka dari biji hanya sekitar 5 kg/ha.

“Untuk penanaman dalam bentuk biji tidak terlalu merepotkan dibandingkan bibit dari umbi,” ujarnya. Bawang merah biji memang menjadi salah satu alternatif bagi petani untuk meningkatkan produktivitas. Tia/Yul

Sumber: http://i.litbang.pertanian.go.id/;http://m.tabloidsinartani.com/;http://www.hariangrobogan.com/2015/10/hebat-grobogan-kembangkan-produksi- bawang-dari-biji.html; https://grobogan.go.id/

Informasi Biji Bawang dari Biji Sms/Wa : 0823-1028-9784 (pak hendra) tersedia varietas tuk tuk kemasan 50 gram dan 500 gram.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s