Pestisida Nabati untuk Pertanian

pestisida alami.Sejatinya pestisida nabati sudah dipakai sejak lama oleh petani-petani kita. Awalnya petani dan pekebun memakai ekstrak tembakau untuk memberantas hama padi di sawah, urine sapi sejatinya juga bisa digunakan sebagai pestisida alami. Namun sejak dicanakngkan revolusi hijau  1980-an pestisida kimia lebih mudah didapat dan efektivitasnya lebih terjamin, banyak petani dan pekebun kepincut meskipun kini disadari jika produk-produk kimia tersebut tidak ramah lingkungan.

Beragam penelitian membuktikan banyak tumbuhan bisa menjadi obat yang bisa menghalau hama. Contohnya getah biduri Calotropis gigantea yang dapat membuat rusak kandungan kitin di kulit serangga. Ide tersebut berangkat dari kebiasaan orang Jawa yang suka mengoleskan getah biduri saat hendak mencabut gigi. Dosis yang dipakai adalah 50 g getah dicampur 1 l air yang mampu membunuh serangga dalam 1 jam.

Perlindungan tanaman merupakan bagian yang sangat penting dalam upaya menekan kehilangan hasil  yang diakibatkan oleh  OPT.

BAHAYA PESTISIDA BAGI KESEHATAN

Penggunaan pestisida  sebagai salah satu komponen pengendalian  OPT sebaiknya diterapkan secara bijaksana hal ini berkaitan dengan dampak negatif akibat penggunaan pestisida yang tidak bijaksana   berupa resurgensi, resistensi, matinya populasi musuh alami dan pencemaran lingkungan melalui residu yang ditinggalkan serta terjadinya keracunan pada manusia (Oka, 1995).Dalam upaya mengantisipasi permasalahan tersebut sudah saatnya perlu kita kembangkan penggunaan pestisida nabati yang merupakan  alternatif sebagai sarana pengendalian OPT yang selalu tersedia di alam, dapat dibuat sendiri serta relatif cukup aman bagi lingkungan.

Pestisida nabati merupakan produk alam yang berasal dari tumbuhan yang mengandung bioaktif seperti alkaloid senyawa skunder  yang jika diaplikasikan ke  ke jasad sasaran (hama) dapat mempengaruhi sistem syaraf, terganggunya reproduksi, keseimbangan hormon,prilaku berupa penarik/pemikat, penolak, mengurangi nafsumakan dan terganggunya sistem pernafasan.

Senyawa bioaktif dalam tumbuhan bahan pestisida nabati dapat dimanfaatkan sama seperti pestisida  sintetis. Bagian tumbuhan yang  bahan pestisida nabati bisa digunakan dalam bentuk utuh, bubuk/tepung maupun ekstrak.

daun gamal sebagai bahan pestisida
daun gamal sebagai bahan pestisida

Pestisida nabati bisa dipakai pada budidaya sayuran di greenhouse yang tertutup. Meski daya kerjanya tidak seampuh pestisida kimia,  tapi mampu menyingkirkan hama dan yang terpenting pekerja tetap sehat dan biaya produksi bisa dipangkas. Bahan utama pestisida nabati dapat berasal dari beraneka tanaman. Daun cengkih, sirih, bebadotan, daun tembakau dan jarak bisa dipakai. Bahan tersebut dapat dikombinasi dengan pemakaian kacang babi,  kencur, dan bawang  putih.

Seluruh bahan-bahan itu ditumbuk  dan diambil ekstraknya. Masing-masing ekstrak lalu ditaruh di botol terpisah. Pencampuran dilakukan menjelang penyemprotan sayuran. Untuk tabung semprot atau knapsac berkapasitas 20 l  dibutuhkan ekstrak yang dibuat dari daun cengkih, sirih, bebadotan, dan jarak. Masing-masing jumlahnya segenggam. Senjata itu terbukti ampuh mengusir  cendawan, kutu kebul,  dan  thrips yang  serinh dijumpai di dalam greenhouse. Hama-hama itu terusir karena ektrak tanaman tersebut mengandung eugenol. Riset membuktikan eugenol bersifat antibiotik dan toksik pada beberapa cendawan patogenik seperti Fusarium oxysporum, Phytophthora capsici, Rhizoctonia solani, dan Scelotium rofsii.

Sejatinya pestisida nabati sudah dipakai sejak lama. Awalnya pekebun memakai ekstrak tembakau untuk memberantas hama. Namun sejak pestisida kimia lebih mudah didapat dan efektivitasnya lebih terjamin, banyak pekebun  kepincut meskipun kini disadari jika  produk-produk kimia tersebut tidak ramah lingkungan.

Beragam penelitian membuktikan banyak tumbuhan bisa menjadi obat yang bisa menghalau hama. Contohnya getah biduri Calotropis gigantea yang dapat membuat rusak kandungan kitin di kulit serangga. Ide tersebut berangkat dari kebiasaan orang Jawa yang suka mengoleskan getah biduri saat hendak mencabut gigi. Dosis yang dipakai adalah  50 g getah dicampur 1 l air yang mampu membunuh serangga dalam 1 jam.

Beberapa bahan aktif di jaringan tumbuhan seperti  daun, bunga, buah, kulit, dan kayu memiliki sifat berbeda terhadap serangga. Sebagai pestisida nabati dengan karakter membunuh serangga bisa dipakai piretrum Chrysanthemum cinerariaefolium, tuba Derris elliptica, mimba Azadirachta indica, dan srikaya Annona squamosa. Sebagai penangkal (pest reppelant) dapat digunakan gadung Dioscorea composite.  Namun bila fungsinya sebagai penjebak hama (attractant) bisa digunakkan melaleuka Meulaleuka bracteata dan selasih Oncimum ballicum.

Tanaman-tanaman itu tersebut daya kerja minimal 50% dari kimia. Piretrum misalnya dipilih karena mengandung  piretrin. Ekstrak krisan putih itu pada dosis kurang dari 5 ml/l  bisa membuat  susunan syaraf serangga kacau sehingga kurang dari 2 jam, serangga  lumpuh lalu mati. Selanjutnya serangan lalat buah Bractocera dorsalis pada jambu, mangga,  atau belimbing bisa diminimalisir dengan ekstrak melaleuka dan selasih. Keduanya mujarab menjebak lalat jantan karena kerja feromon yang mirip-mirip bau betina. Pemakaiannya pun mudah, cukup menaruh  ekstrak  sebanyak 10—15 ml/l di botol bekas air kemasan lantas botol digantung. Namun perlu diingat pestisida nabati cepat terurai sehingga penyemprotan perlu lebih sering dilakukan.

Esktrak Tembakau (Nicotiana tobaccun L.)

Tembakau

Tembakau (Nicotiana tobaccum L.) adalah salah satu bahan pestisida nabati yang sangat ampuh. Berbagai macam hama bisa dikendalikan dengan ekstrak tembakau ini. Hampir semua bagian tanaman tembakau bisa dimanfaatkan untuk pestisida nabati. Daun tembakau, terutama yang sudah difermentasi, sangat efektif untuk pestisida nabati. Jika daun tembakau tidak tersedia, atau mahal harganya, bisa memanfaatkan sisa-sisa batang setelah tanah. Bahan pestisida nabati juga bisa memanfaatkan tembakau yang kualitasnya jelek dan harganya murah.

ekstrak tembakauBeberapa daerah dikenal sebagai sentra produksi tembakau, seperti: Temanggung, Wonosobo, lereng Gn. Merapi, Jember, Banyuwangi, dan beberapa tempat lainnya. Ketika musim panen tiba, banyak sekali sisa-sisa tembakau yang harganya relatif miring. Kumpulkan saja bahan-bahan ini dan jika diperlukan suatu saat bisa dimanfaatkan untuk membuat pestisida nabati.

Petani-petani yang ada di sekitar wilayah penghasil tembakau, bisa memanfaatkan bahan ini untuk pengganti pestisida kimia. Pestisida nabati dari daun tembakau tidak kalah manjurnya daripada pestisida kimia. Memang petani mesti repot sedikit untuk membuat pestitidanya, tetapi yang lebih penting adalah petani bisa mandiri dan lebih ramah lingkungan.

Tembakau kualitas rendah yang sudah tidak layak untuk bahan baku rokok yang dijadikan sebagai bahan baku pestisida nabati. Dan masih banyak pestisida alamai yang bisa kita dapatkan dari alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s