Kunci Keberhasilan Agribisnis, Kenapa Tidak Belajar Dari Thailand

singkong Varietas Lokal
singkong Varietas Lokal

Handoko Widagdo – Solo, Pada tahun 2009 kemarin, aku berkesempatan menemani para peneliti dari Departemen Pertanian untuk studi banding ke Thailand. Berikut adalah catatan kecil saya. Catatan tentang pertanian dan tentu saja wisatanya.

Pepaya Bangkok, Durian Bangkok, Jambu Bangkok, Ayam Bangkok, dan sebutan bangkok-bangkok yang lain adalah penggambaran kita tentang buah dan binatang yang ukurannya lebih besar dari ukuran normal yang ada di Indonesia. Sebutan bangkok seakan menjamin mutu yang lebih tinggi dari yang ‘kita’ punya. Bahkan juga membanjiri supermarket dan pedagang buah di pinggir jalan di Indonesia.

Saat kami terbang ke Bangkok, isu tentang harga padi dan harga pangan lainnya yang meroket sedang hangat memenuhi halaman koran dan tayangan TV. Dalam berita-berita tentang harga pangan yang meroket tersebut, Thailand hampir selalu disebut-sebut karena mereka tetap saja mampu mengekspor beras.

Adalah sebuah kebetulan jika kami ke Thailand untuk belajar tentang agribisnis pada saat yang demikian. Seperti kita tahu, Thailand berlangkah-langkah lebih maju di depan kita dalam hal mengelola pertaniannya. Sehingga wajarlah jika kami, serombongan pejabat departemen pertanian dan LSM belajar dari mereka tentang kiat-kiat sukses mengelola pertanian sehingga bisa ‘go international’.

Departemen Pertanian Thailand, dengan arahan dari Sang Raja, membuat visi yang spektakuler: “Thailand kitchen of the world!” Visi ini bukan sekedar jargon seperti yang sering kita lihat di spanduk-spanduk yang dipajang oleh para pejabat kita di depan kantor menjelang peringatan hari besar tertentu.

Visi ini diterjemahkan menjadi suatu rencana yang rinci dan benar-benar dijalankan sampai di tingkat petani. Sistem penyuluhan dibenahi, sarana produksi dan permodalan disediakan, infrastruktur dibangun dengan kualitas prima. Bahkan, untuk menjangkau pasar internasional, standar yang dipakai di negara pengimpor diterapkan di petani. Setiap petani yang akan mengekspor produknya harus menjalankan dua standar, yaitu GAP (good agricultural practices) dan GMP (good manufacturing practices). Jika petani telah menjalankan, pemerintahlah yang membayar sertifikasinya.

Isu pertanian Thailand

padang pasir aja di sulap jadi sentra tanaman buah
padang pasir aja di sulap jadi sentra tanaman buah

Di saat pertanian menjadi perhatian dunia, Thailand, sekali lagi, merumuskan isu pokok yang harus dipecahkan. Tiga hal yang menjadi isu pokok saat ini adalah: (1) Ekspor padi, (2) Penataan wilayah pertanian, dan (3) Kompetisi antara bertahan dengan padi dan menanam tanaman karet dan sawit.

Ekspor padi menjadi perhatian utama karena merekalah saat ini yang menjadi negara pengekspor beras terbesar. Ada wacana untuk membentuk persatuan negara pengekspor padi, semacam OPEC untuk minyak bumi, di mana Thailand menjadi pelopornya. Namun setelah membahasnya, mereka lebih suka untuk menjamin negara-negara tetangga supaya bisa mendapatkan ‘harga kawan’. Alasannya, jika negara-negara tetangga aman dari krisis pangan, maka suasana regional akan tenang dan kondusif untuk pertumbuhan. Artinya, beras bisa tetap dijual, sementara pemasaran produk lainnya seperti buah dan sayur bisa tetap lancar. Smart idea.

Penataan wilayah, atau lebih lazim disebut zoning dalam ilmu pertanian, dimaksudkan untuk mengefektifkan pelayanan dan menekan beaya prosesing dan distribusi. Jika produk bisa dihasilkan di pusat-pusat produksi, maka pelayanan menjadi lebih efisien. Misalnya di wilayah tersebut bisa didirikan pusat penelitian yang bisa langsung merespon kebutuhan petaninya, daripada kalau pusat penelitian tersebut terpusat. Para petugas penyuluh juga bisa dilatih sesuai dengan produk unggulan di wilayah tersebut, sehingga mereka bisa membantu petani dengan cara yang lebih cermat. Bandingkan dengan penyuluh kita yang tahu sedikit tentang banyak hal. Pusat produksi juga memudahkan untuk prosesing dan pengangkutan.

Mengingat bahwa bukan hanya padi yang saat ini mahal, tetapi juga produk pertanian yang bisa dipakai untuk membuat biofuel, seperti ubi kayu dan sawit, serta produk karet alam, maka keinginan petani Thailand untuk menanam produk ini juga sangat tinggi. Namun untuk menjaga keunggulan Thailand sebagai produsen padi, maka penanaman kelapa sawit dan karet dilakukan secara hati-hati.

Mereka memilih untuk tidak mengkonversi lahan padi menjadi lahan sawit dan karet. Mereka juga tidak mengkonversi hutan menjadi perkebunan kedua jenis tanaman ini. Mereka memakai lahan-lahan yang kurang subur untuk ditanami kedua jenis tanaman ini, khususnya karet. Kelapa sawit tidak terlalu ditekankan karena mereka merasa tidak akan mampu bersaing dengan Malaysia dan Indonesia yang punya Kalimantan.

Hebat bukan?

Sayur dan buah

Super Reds
Super Reds

Marilah kita bicara tentang sayur dan buah. Thailand adalah negara yang paling serius di kawasan Asia Tenggara dalam menangani buah dan sayur. Thailand adalah negara pengekspor babycorn terbesar kedua di dunia. Mereka juga pengekspor asparagus. Durian mereka menyerbu supermarket Jepang, China, Taiwan dan juga Indonesia. Bukan saja produk segar, mereka juga mengekspor buah kering dan sayur dalam kaleng. Selain itu mereka juga membanjiri dunia dengan produk juice berbagai buah dan sayur. Bagaimana mereka bisa melakukan semuanya itu? Berikut adalah beberapa pengalaman yang perlu kita simak.

Peran negara dalam mendukung petani sangatlah besar. Negara menyediakan dukungan penelitian, pelatihan dan sarana produksi bahkan Bank Of Agriculture yang menyalurkan modal kerja bagi petani. Negara juga menjamin kualitas produk yang dihasilkan dengan sertifikasi. Belanja negara untuk pembangunan infrastruktur diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian. Jalan dan pasar induk dibangun dan dikelola dengan profesional.

Sinaga-Merah-Dari-Ujung-KulonPeran sektor bisnis juga tak boleh dilupakan. Sistem contract farming yang dipakai di Thailand berbeda dari yang biasa kita kenal di Indonesia. Perusahaan melakukan kontrak dengan petani tanpa perlu petani menyerahkan agunan. (Di Indonesia, umumnya tanah petani menjadi agunan, sehingga kalau petani gagal, tanah mereka akan disita). Kegagalan petani akan ditanggung oleh negara. Statuta utama dalam kontrak tersebut adalah perusahaan menjamin harga minimal dari produk yang dimintanya untuk ditaman oleh petani. Jika harga pasar diatas harga kontrak, petani bebas untuk menjualnya ke pihak lain.

Salah satu contoh perusahaan yang kami kunjungi adalah Swift Company. Perusahaan asli Thailand ini adalah perusahaan pengekspor buah dan sayur premium ke pasar Eropa. Mereka melakukan kontrak dengan petani. Mereka menjamin harga hampir 10 kali lebih tinggi dari harga pasar. Untuk menekan biaya, mereka melakukan sorting dan grading sejak dari lahan petani. Sehingga ketika produk sampai di gudang perusahaan, hampir tidak ada lagi yang dibuang. Tinggal mengepak dan mengirimkannya ke Eropa dengan pesawat.

Pagi dipanen di lahan petani, pagi berikutnya sudah terjaja di konter supermarket di London dan kota-kota besar lainnya di Eropa. Wow… Manager yang menerima kami menjelaskan bahwa: “bisnis kami tergantung dari petani. Oleh sebab itu kami harus membuat petani beruntung. Tanpa itu mereka tidak akan menanam. Akibatnya kami tidak akan dapat produk.” Ketika aku tanyakan kenapa tidak menanam sendiri, mereka bilang bahwa bekerja sama dengan petani adalah strategi untuk berbagi resiko dan sekaligus berbagi keuntungan. Jika terjadi kegagalan karena alam, perusahaan ikut bertanggung jawab. “Berbagi adalah kuncinya” demikian Ibu Manager menjelaskan. Mereka benar-benar berbisnis dengan hati.

Ibu Raja yang berbudi luhur

Lek wawu
Ibu wawu Pensiunan yg terjun ke Agribisnis

Perjalanan kami lanjutkan ke utara. Kami memakai kereta api dari bangkok ke Ciang May. Kami habiskan seluruh malam di atas kereta yang nyaman, meski AC-nya terlalu dingin.

Berkunjung ke Ciang May dan Ciang Rai adalah perjalanan memorial bagi saya. Ini mengingatkan kembali jaman 1998-2000 lalu di mana saya mondar-mandir ke wilayah ini untuk membantu FAO dalam pengembangan program sayuran. Ternyata banyak yang sudah berubah. Jalan raya sangat lapang dan jalan ke kampung yang dulu tanah berdebu, sekarang telah berubah menjadi aspal hotmik sehalus sutera. Gedung-gedung baru pun bermunculan. Tempat belanja di Ciang May tidak lagi hanya night market, tapi sudah bertambah di banyak tempat.

Tujuan kami ke utara bukanlah untuk berwisata dan berbelanja. Namun kami ingin belajar tentang program sosial yang berwawasan agribisnis. Program yang kami kunjungi adalah program Doi Tung. Program Doi Tung adalah program yang diprakarsai oleh Ibu Suri (ibu dari Raja Bumibol).

Program ini bermaksud untuk membantu suku-suku minoritas yang dulunya penanam opium. Doi Tung memadukan wisata budaya dan pertanian. Istana yang dibangun untuk Ibu Suri sekaligus dijadikan tempat wisata budaya. Sedangkan pengembangan pertanian diarahkan pada pertanian bunga, kopi dan biji makadamia. Program ini mengubah suku minoritas dari penanam opium menjadi wirausaha yang tangguh. Mula-mula suku minoritas ini direkrut sebagai buruh di perusahaan yang didirikan oleh Ibu Suri. Setelah terampil diberikan hak mengelola lahan dan permodalan. Sementara pemasaran dibantu melalui perusahaan DoiTung. Perusahaan menjamin pemasaran. Bahkan kopi Doi Tung harganya lebih mahal dari kopi Starbucks.

Para petani yang memproduksi bunga menjual bunganya ke Doi Tung. Bunga-bunga tersebut dipakai untuk menghias taman di tempat rekreasi. Taman-taman ini sekaligus sebagai tempat display. Pengunjung yang berminat untuk membangun taman serupa, atau sekedar membeli bunga bisa memesannya melalui Doi Tung. Bunga-bunga yang ditanam di sini kebanyakan adalah bunga dari Holland.

Saat meninggalkan Svarna Bhumi saya merenung. Apa yang beda dari Negeri Siam dengan negeriku? Ternyata kesungguhan, kejujuran dan niat untuk berbagi adalah kunci sukses mereka. Sementara hal-hal ini telah luntur di Nusantara. Bahkan setelah era reformasi.

Khop Khun Khrap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s