Buah Soekarno Yang Menghijaukan Padang Pasir Arafah

Padang Arafah 1Alhamdulillah tahun 2014 ini saya di berikan kesempatan di panggil oleh Allah untuk melaksanakan Ibadah Umroh bersama Istri dan berziarah ke dua kota suci bagi umat muslim. ketika sampai menjejak mekkah memang dimana-mana gunung berbatu dan padang pasir tapi ada pemandangan yang lain dipinggir-pinggir jalan sangat hijau  dengan pepohonan selain pohon kurma, apakah gerangan pohon hijau tersebut konon ceritanya pohon-pohon hijau di dua kota suci umat Islam ini berasal dari Indonesia. Inilah bukti nyatanya, Bukan Padang Arafah, yang tepat Taman Arafah,” ujar saya ketika mengunjungi Jabal Rahmah dan Padang Arafah dalam serangkaian Ibadah Umroh, mengomentari kondisi Padang Arafah saat ini, bahkan sejak bertahun-tahun.

IstrikuPadang Arafah yang terletak lebih dari 20 kilometer dari pusat kota Mekkah, Arab Saudi, memang bukan lagi padang tandus, pasir berbatu-batu. Kawasan itu telah hijau royo-royo. Dari Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam dan Ibu hawa nenek moyang manusia yang terpisah ketika diusir dari surga dan diturunkan dibumi, pemandangan menghijau tampak di kawasan itu. Meski hanya ada satu jenis pohon yang tumbuh, warna hijau daunnya paling tidak menyegarkan mata, bukan hamparan coklat padang pasir. Padang Arafah yang setiap musim haji menjadi lokasi berkumpulnya dua hingga tiga juta jamaah haji dunia saat melaksanakan wukuf, dikenal memiliki suhu udara yang sangat panas.

Dengan suhu sekitar 38-45 derajat celcius saat musim panas, tak pelak jamaah yang sedang wukuf di situ akan merasa kepanasan yang menyengat sehingga tidak sedikit yang cepat keletihan saat berada di situ.Padang tersebut memang sangat gersang dan nyaris hanya sedikit terdapat bangunan karena memang sehari-hari di luar musim haji, nyaris tidak ada manusia yang singgah ke situ.Tapi dibeberapa lokasi Padang Arafah yang memiliki total luas 5,5×3,5 kilometer persegi itu, terdapat rimbunan pohon yang seringkali dijadikan tempat berteduh bagi warga yang ada di situ.

Sejumlah masyarakat yang sudah seringkali datang ke Arafah sebagai petugas haji Indonesia mengatakan bahwa pohon-pohon yang merindangkan beberapa lokasi Arafah dinamakan “Pohon Soekarno” karena memang pohon itu yang mengusulkan agar ditanam di situ adalah Presiden pertama Indonesia.

Pohon sejenis pohon mindi ini memang dibawa oleh Soekarno saat melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

Sebagai orang berpengaruh di kawasan negara-negara nonblok Bung Karno dengan mudah menawarkan ide penanaman pohon ini kepada kalangan masyarakat SArab yang dikenal keras dan teguh dalam berpendirian.

Saat mengunjungi Jabal Rahmah, bukit bukti cinta Adam dan Hawa, yang terletak di kawasan Arafah, satu minggu lalu, tidak ada satu tenda pun yang dipasang di Arafah, karena bukan musim haji. Padahal, pada hari  wukuf saat ibadah haji  jutaan jemaah dari seluruh dunia datang ke Arafah, menunggu waktu wukuf yang merupakan puncak ibadah haji, Senin (15/11). Di dalam tenda-tenda yang dipasang untuk menampung seluruh jemaah itulah, muslimin dan muslimat yang tengah menjalankan ibadah haji menunggu wukuf.

Teriknya padang pasirPanas terik udara padang pasir Jazirah Arab paling tidak akan terkurangi dengan kesejukan dari pepohonan yang tumbuh di Arafah. Padang Arafah, simbolisasi Padang Masyar, tempat pengadilan manusia kelak.

Kondisi Arafah yang hijau royo-royo, tak terlepas dari peran dan gagasan Bung Besar kita, Presiden Soekarno. Ide menghijaukan Padang Arafah muncul saat presiden pertama Republik Indonesia itu sedang wukuf saat menunaikan ibadah haji pada awal tahun 1960-an.

Pengamat kehutanan dan lingkungan, Transtoto Handadhari, dalam artikelnya (Kompas, 24 Maret 2001), menyebutkan, pohon setinggi empat meter hingga enam meter, yang kini tumbuh di Arafah adalah jenis pohon mindi (melia azedarah). Pohon ini di Arab Saudi dikenal dengan nama ”pohon soekarno”.

Penanaman pohon soekarno di padang seluas 1.250 hektar itu oleh Pemerintah Arab Saudi merupakan bentuk penghargaan atas gagasan Bung Karno menghijaukan Padang Arafah. Pemerintah Arab Saudi mengundang ahli kehutanan Indonesia untuk menjalankan program itu.

Transtoto menyebutkan, jenis pohon yang dipilih adalah mindi yang dibawa dari Indonesia. Pohon ini tahan hidup di padang pasir. Untuk mendukung pertumbuhan pohon itu, dibawa pula tanah subur dari Indonesia dan Thailand. Untuk penyiraman, di bawah tanah dipasang pipa air dan setiap pohon mendapatkan satu keran air sendiri.

Upaya itu membuahkan hasil. Sejak bertahun-tahun lalu, Arafah hijau royo-royo. Kelestarian pohon itu diharapkan tetap terjaga meskipun 3,5 juta lebih jemaah akan datang, baik saat menunggu maupun saat wukuf berlangsung. Dam alias denda di berlakukan bagi jemaah, di antaranya jika mencabut rumput sekalipun atau mematahkan ranting pohon. Dam berupa memotong seekor kambing tentu akan menjauhkan jemaah, misalnya, dari mematahkan dahan atau ranting pohon soekarno.

Berkat perawatan dan pengembangan yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi, pohon soekarno saat ini tidak hanya tumbuh di Arafah. Di sejumlah kota, seperti Madinah dan Mekkah, pohon ini tumbuh tersebar di pelosok kota. Di kawasan Syariq Mansyur, Mekkah, misalnya, di sejumlah halaman gedung terdapat pohon-pohon mindi yang tumbuh lebih dari enam meter.

Arab saudi-1Di jalan-jalan utama kota suci itu, pohon soekarno bahkan telah menjadi pohon penghias jalan. Beberapa tahun lagi, pohon-pohon itu tentu akan menyejukkan para pemakai jalan.

Di Terminal Bus Kuday, Mekkah, sungguh telah hijau pula, kontras dengan latar belakangnya, yakni bukit berbatu. Terminal Kampung Rambutan dan Pulogadung, Jakarta, kalah hijau.Di Indonesia sendiri kedua tanaman itu memiliki beberapa fungsi. Tanaman yang digunakan untuk penghijauan lahan kritis itu juga dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan dan kayu bakar.Daunnya bermanfaat untuk bahan baku pestisida organik dan sebagai obat bagi kesehatan.

Fermentasi dari daun Mimba dan urin kambing/kelinci yang dipercepat dengan dekom-poser-bio efektif dapat digunakan untuk pengendalian hama kutu daun pada cabe, tomat, serta kacang panjang.

Para sobat perkebunan dan pertanian yang budiman, mungkin anda masih mengingat sebuah hadits yang masyhur dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ‏‎ ‎انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ‏‎ ‎مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ‏‎ ‎صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ‏‎ ‎يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ‏‎ ‎صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya.” [HR. Muslim dalam Kitab Al-Washiyyah (4199)]

Perhatikan, satu di antara perkara yang tak akan terputus amalannya bagi seorang manusia, walaupun ia telah meninggal dunia adalah SEDEKAH JARIYAH, sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi seseorang.

Berteduh di Pohon KurmaPara ahli ilmu menyatakan bahwa sedekah jariyah memiliki banyak macam dan jalannya, seperti membuat sumur umum, membangun masjid, membuat jalan atau jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon, biji-bijian atau tanaman pangan, dan lainnya.

Jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita –walau telah meninggal- selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا‎ ‎أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ‏‎ ‎مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ‏‎ ‎بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ‏‎ ‎صَدَقَةٌ

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya.” [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab AL-Muzaro’ah (2320), dan Muslim dalam Kitab Al-Musaqoh (3950)]

Al-Imam Ibnu Baththol -rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits ini, “Ini menunjukkan bahwa sedekah untuk semua jenis hewan dan makhluk bernyawa di dalamnya terdapat pahala.” [Lihat Syarh Ibnu Baththol (11/473)]

Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah -Azza wa Jalla-, sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati. Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا‎ ‎إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ‏‎ ‎لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ‏‎ ‎لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ‏‎ ‎السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ‏‎ ‎صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ‏‎ ‎فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا‎ ‎يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ‏‎ ‎لَهُ صَدَقَةٌ

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” [HR. Muslim dalam Al-Musaqoh (3945)]

Penghijauan alias REBOISASI merupakan amalan sholeh yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di dunia dan untuk membantu kemaslahatan akhirat manusia. Tanaman dan pohon yang ditanam oleh seorang muslim memiliki banyak manfaat, seperti pohon itu bisa menjadi naungan bagi manusia dan hewan yang lewat, buah dan daunnya terkadang bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai macam peralatan, akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir, daunnya bisa menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, dan pohon juga bisa menjadi pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi lingkungan dalam mengurangi polusi udara, dan masih banyak lagi manfaat tanaman dan pohon yang tidak sempat kita sebutkan di lembaran sempit ini.

Jika demikian banyak manfaat dari REBOISASI alias penghijuan, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan tanah dan menanaminya sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits lainnya, seperti beliau pernah bersabda,

إِنْ قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ‏‎ ‎أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ‏‎ ‎اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى‎ ‎يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang di antara kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka lakukanlah.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/183, 184, dan 191), Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2068), dan Al-Bukhoriy dalam Al-Adab Al-Mufrod (479). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 9)]

Gagasan baik berbuah baik pula.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s