Alpukat Mentega, Bibit Unggul Akibat Penyimpangan Genetika

Alpukat MentegaAlpukat merupakan tumbuhan yang menghasilkan buah meja dengan nama yang sama. Nama alpukat dicomot dari Bahasa Aztek yaitu ahuacatl (dibaca: awakatl, red.). Sementara, Aztek merupakan suku mayoritas yang mendiami Amerika Tengah dan Meksiko. Karena itulah, alpukat diklaim sebagai tanaman yang berasal dari kedua wilayah tersebut. Meski, sebuah sumber lain menyatakan bahwa sebenarnya alpukat berasal dari Persia. Sebab itulah, nama botaninya yaitu Persea Americana.

Isi-hot-alpukat1-(res72)Lalu, sekitar awal abad ke-16, ketika pasukan Spanyol memasuki Amerika Tengah dan Meksiko, berbagai tumbuhan yang tumbuh di kedua wilayah itu, termasuk alpukat, mereka bawa dan perkenalkan kepada masyarakat Eropa, di antaranya orang-orang Belanda. Nah, dari negara yang pernah menjajah negara kita selama 3,5 abad itulah, kita mengenal alpukat.

Diduga (karena memang belum ada yang menelitinya secara serius, red.), di dunia ini terdapat ratusan jenis alpukat. Sementara, yang terdapat di Indonesia hanya sekitar 20 jenis. Itu pun hanya dua jenis yang dikenal dengan baik oleh masyarakat yaitu alpukat yang selama ini kita konsumsi dan alpukat mentega.

Berbicara tentang alpukat mentega, banyak orang yang menduganya sebagai varietas baru dalam keluarga alpukat atau hasil rekayasa genetika. “Ya. Alpukat mentega memang varietas baru dalam tanaman alpukat, tapi ia sudah lama sekali ada. Alpukat ini bukan hasil rekayasa, melainkan penyimpangan genetika yang terjadi secara alamiah. Namun, penyimpangan tersebut justru membuatnya jauh lebih unggul ketimbang alpukat yang selama ini kita kenal,” ungkap Oktavianus Dwi Pamungkas dari Usaha Tani Mandiri, sebuah usaha pembibitan alpukat mentega Miki yang berlokasi di Depok.

Keunggulan-keunggulan yang dimaksud yaitu pertama, daging buahnya lebih tebal, tidak berserat, berwarna kuning seperti mentega, rasanya legit dan gurih sehingga saat diolah menjadi jus, misalnya, tidak perlu ditambahi gula. Kedua, tidak disukai ulat pemakan daun dan buah. Sehingga, saat kembangnya bermunculan hingga berbuah, hama ini tidak menyerang. Ketiga, berbuah tanpa musim. Sehingga, dalam setahun bisa 2−3 kali panen. Keempat, berbuah di usia muda (tiga tahun setelah ditanam). Kelima, dapat ditanam di halaman rumah, taman, pinggir jalan, dan pekarangan. Keenam, bersahabat dengan alam. Ketujuh, cocok ditanam di tanah yang basah sekali pun.

Di samping itu, berdasarkan pengalaman yang sudah dialami oleh Usaha Tani Mandiri, dalam pembudidayaannya termasuk gampang-gampang susah. “Dikatakan mudah, karena alpukat mentega juga bisa ditanam di Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, dan lain-lain yang cenderung beriklim lebih panas daripada Depok. Sedangkan dikatakan sulit, karena memang sulit dalam pengembangbiakkannya,” jelas pria yang akrab disapa Okta ini.

Pada dasarnya, ia melanjutkan, pembudidayaan alpukat mentega dimulai dari menanam bijinya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh akar yang kuat, guna menopang pertumbuhannya di waktu-waktu mendatang. Selanjutnya, seiring dengan pertumbuhannya, dilakukan dua cara pengembangbiakkan yaitu dengan cangkok dan dengan penyambungan pucuk/tunas (top grafting/enten).

Bila dilakukan dengan pencangkokan, hasilnya tidak maksimal. Karena, kekuatan akarnya kurang dan akan mengurangi batang di pohon inti. Sebaliknya jika dengan enten, yang biasanya dilakukan ketika tanaman telah berumur 1−2 bulan, terhitung dari pertama kalinya biji ditanam. Hasilnya 99% sama dengan pohon induknya. Karena, batang induknya yang digunakan dan lalu disambungkan ke anakannya. Singkat kata, dengan sistem enten, selain pertumbuhannya lebih cepat, juga gen yang ada dapat dipertahankan. Tapi, cara enten tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Dan, di situlah letak sulitnya mengembangbiakkan alpukat ini.

“Pembudidayaan alpukat mentega langsung dari bijinya jarang dilakukan. Karena, kemungkinan besar hasilnya tidak bisa 100% sama dengan induknya atau akan terjadi penyimpangan genetika. Seperti, terjadi gangguan pada buah atau waktu pertumbuhannya. Di samping itu, untuk memanen dibutuhkan waktu 7−8 tahun setelah ditanam. Itu pun belum tentu sudah berbuah,” kata Okta.Isi-hot-alpukat2-(res72)

Alpukat mentega juga tidak membutuhkan perawatan ekstra dan dapat dikerjakan sendiri. Karena, pemberian pupuk dan penyiraman secara teratur cuma dilakukan pada awal tanam. Dalam arti, pemupukan cukup dilakukan 6 bulan−1 atau 2 tahun sekali. Setelah akarnya menguat, kita hanya tinggal membersihkan rumput-rumput di sekitarnya atau jika buahnya terlalu rimbun, maka kita harus membuatkan peyangga untuk batangnya.

Tanaman ini, seperti sudah dikatakan di atas, akan berbuah untuk pertama kalinya pada umur tiga tahun dan dia akan terus berbuah hingga berumur lebih dari 15 tahun. Bahkan, semakin bertambah umurnya, semakin banyak buah yang dihasilkan dan tidak berkurang bobotnya. “Pertama kali dipanen, umumnya akan diperoleh 20 kg−50 kg alpukat mentega per pohon. Pada pemanenan kedua dan seterusnya, jumlah buah akan bertambah 50%−100% nya,” ujarnya.

Sebenarnya, ia menambahkan, hal ini bukan satu lagi keunggulan alpukat mentega, melainkan suatu  cara untuk mendapatkan hasil pemanenan yang lebih baik. Sebab itu, biasanya pada pemanenan pertama pertumbuhan bunganya justru dibatasi untuk melihat kondisi pohonnya terlebih dulu. Misalnya, jika batangnya terlalu kecil tapi harus menahan buah dalam jumlah banyak, pada akhirnya malah akan merusak tanaman dan berpengaruh pada kualitas buah berikutnya. Berkaitan dengan itu, buah yang dihasilkan dari pemanenan pertama lebih sedikit ketimbang pemanenan-pemanenan berikutnya. 

Selanjutnya, buah-buah berbentuk hijau bulat seberat 500 gr−700 gr per buahnya ini dijual dengan harga Rp15 ribu/kg (di tingkat petani) atau Rp20 ribu−30 ribu per kilogram (di toko/pasar buah). Sementara alpukat yang selama ini kita kenal, selain berbentuk lonjong, juga hanya berbobot 200 gr/buah dan dijual dengan harga Rp6 ribu/kg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s