“Profesor Tikus” Bikin Pupuk Pakai Tikus

professor tikusKOMPAS.com – Siapa menyangka kalau Anas mendapat julukan profesor hanya karena memanfaatkan bangkai tikus sebagai pupuk tanaman. Temuan warga Kecamatan Cempa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan itu kini menjadi percontohan pembuatan pupuk organik yang berguna untuk meningkatkan kualitas produksi pertanian.

Meski belum ada hasil penelitian lebih lanjut dari Dinas Pertanian setempat terhadap temuan petani berusia 40 tahun ini, Anas bersama petani di daerahnya sudah menggunakan dan mendapatkan dari pupuk cair hasil temuannya, yang berasal dari permentasi bangkai tikus. Karena temuannya itu, oleh warga Pinrang, Anas di juluki profesor tikus.

Ditemui Kompas.com di areal persawahan miliknya yang sekaligus dijadikan perangkap tikus raksasa Minggu (5/2/2012), Anas mengatakan, sejak tahun 2005 silam, secara otodidak, dia mempelajari perilaku hidup tikus yang selalu jadi musuh utama petani.

Dari keingintahuannya tersebut, Anas mulai membuat perangkap tikus yang didesainnya sendiri, yang kemudian dipasangnya di beberapa titik pada areal sawah miliknya. Awalnya, tikus-tikus tangkapan yang telah dipukul mati ia tumpuk dan dibiarkan begitu saja di sebidang tanah dekat sawah miliknya.

“Tapi setelah saya perhatikan, ternyata tanah pembuangan bangkai tikus itu terlihat jauh lebih subur. Ketika saya coba menanam pohon buah diatas tanah pembuangan bangkai tikus, tumbuhnya cepat dan buahnya banyak,” katanya.

Dari hasil pengamatannya tersebutlah, Anas kemudian mengajak beberapa petani setempat untuk berburu tikus. Tapi kali ini, bangkai tikus ditampungnya pada drum bekas minyak. Pada bagian bawah drum, Anas membuat lubang yang kemudian dipasangkan kran air.

“Drumlah menjadi wadah pertama yang saya gunakan untuk melakukan permentasi tikus. bangkai tikus kami tampung didalam drum, yang kami biarkan terus membusuk hingga permentasi yang bertujuan untuk daging dengan tulang tikus menghasilkan cairan yang bisa langsung digunakan sebagai pupuk setelah ditambah air sesuai takaran,” paparnya.Namun butuh biaya besar bagi Anas saat menggunakan drum. Pasalnya, wadah tersebut mudah rusak dan hanya bertahan beberapa pekan saja. Awal 2011 lalu, Anas akhirnya berinisiatif membuat bak penampungan permentasi secara permanen yang terbuat dari campuran semen.

“Hingga kini saya dan petani menggunakan pupuk bangkai tikus. Hasil tanaman kami melimpah dibanding petani lain yang menggunakan pupuk buatan pabrik,” jelasnya.

Ada dua jenis kualitas yang terbagi untuk pupuk kompos cair ini. Pertama, air sari bangkai tikus tidak perlu dicampur air sehingga efek menyuburkannya lebih baik. Sementara yang kedua adalah kebalikannya. Untuk membuat 10 liter pupuk cair jenis kelas 1, dibutuhkan 100 ekor tikus dewasa. Sejak menggunakan pupuk tikus milik Anas, petani setempat bahkan bisa menghemat 35 persen penggunaan pupuk urea. Tercatat sekitar 4.500 hektar sawah di Cempat yang menggunakan pupuk temuan Anas. Dan untuk memenuhi permintaan petani setempat, kini Anas memasang 50 perangkap ukuran raksasa di sawah miliknya.

Hasil temuan Anas ini tidak hanya menarik perhatian petani setempat. Peneliti tikus baik lokal maupun dari manca negara berdatangan demi berguru dengan petani yang hanya mengenyam pendidikan hingga bangku SMA ini. Selain warga, Anas juga didapuk sebagai profesor tikus oleh Profesor Djafar Baco peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (BPPTP) kabupaten Maros.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s