Berkurangnya Lahan Pangan Indonesia dan Mengapa Kita Selalu Import Produk Agribisnis

Padi berbulir di Waras farmDari 252 negara di Dunia, Indonesia adalah negara ke 15 paling luas di dunia dengan luas 1,9 juta km2, atau 190 juta hektar. Dengan jumlah pulau kurang lebih 17000 dan yang didiami hanya kurang dari  100 pulau artinya masih banyak pulau-pulau yang nganggur. Tetapi yang bikin ironi adalah Indonesia sebagai negara Agraris mengimpor semua kebutuhan Agrobisnis dan Holtikultura-nya sesuatu yang aneh, atau emang pemerintahnya gak becus!

Rank

country

(sq km)

Date of Information

1

Russia

17,098,242

NA

2

Canada

9,984,670

NA

3

United States

9,826,675

NA

4

China

9,596,961

NA

5

Brazil

8,514,877

NA

6

Australia

7,741,220

NA

7

India

3,287,263

NA

8

Argentina

2,780,400

NA

9

Kazakhstan

2,724,900

NA

10

Algeria

2,381,741

NA

12

Greenland

2,166,086

NA

13

Saudi Arabia

2,149,690

NA

14

Mexico

1,964,375

NA

15

Indonesia

1,904,569

NA

16

Sudan

1,861,484

NA

17

Libya

1,759,540

NA

18

Iran

1,648,195

NA

19

Mongolia

1,564,116

NA

20

Peru

1,285,216

NA

Jika 100 juta petani Indonesia dan keluarganya diberi lahan 1 ha saja, maka masih tersisa 90 juta ha tanah. Ini bisa menghasilkan 600 juta ton beras (kalau semua ditanam beras). Padahal konsumsi beras Indonesia cuma 34 juta ton beras/tahun. Artinya Indonesia bisa ditanami berbagai tanaman hingga berswadaya. Apalagi tanaman seperti bawang itu kan konsumsinya tidak sebanyak beras. Untuk 100 gram beras, paling cuma butuh 5 gram bawang putih atau hanya 1/20 saja.

Luas Sawah Indonesia Kalah Dibanding Thailand

Kacang HIjauKOMPAS.com — Menteri Pertanian Suswono menjelaskan, luas sawah di Indonesia, khususnya untuk tanaman padi, masih kalah dibanding Thailand. Padahal, jumlah penduduk Indonesia jauh lebih besar dibanding Thailand.

Di Thailand, luas sawah untuk padi sudah mencapai 9 juta ha. Sementara Indonesia hanya 1,5 kali lipat dari luas sawah untuk padi di Thailand yang mencapai 13-14 juta ha. “Dilihat dari luasnya, memang kita lebih banyak. Namun, untuk menyediakan beras untuk 240 juta jiwa, lahan tersebut masih kalah dibanding Thailand,” kata Suswono di Jakarta, Kamis (31/1/2013).

Hal itu juga diperparah dengan jumlah kepemilikan sawah per kepala keluarga. Di Thailand, rata-rata petani di sana sudah memiliki 3 ha sawah, sementara Indonesia hanya memiliki 0,3 ha sawah per kepala. Kondisi inilah yang menyebabkan Indonesia masih memerlukan impor beras.Seperti diberitakan, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan kembali akan mengimpor beras dan sapi serta kebutuhan holtikultura pada 2013. Jika selama ini pemerintah mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam, kali ini pemerintah mengimpor beras dari Kamboja.

Kesepakatan itu diambil antara Dirjen Perdagangan Luar Negeri (PLN) Kementerian Perdagangan Deddy Saleh dan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Sutarto Alimoeso mewakili Pemerintah Indonesia dengan Chairman Green Trade Thon Virak mewakili Kementerian Perdagangan Kamboja dan Ceo Chamalay Foods Co. Ltd Noorhisham bin Nordin di Jakarta, Kamis (1/11/2012).Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh menjelaskan, beras dari Kamboja ini akan digunakan untuk memenuhi stok beras nasional antara 3-4 juta ton. Berasnya tidak semua dikirim ke Indonesia, tetapi akan dibuat stok di Kamboja.”Nantinya Bulog bisa beroperasi di Kamboja, beras tidak perlu semua dikirim ke Indonesia, tetapi dijadikan stok di sana, bisa untuk komersial (dijual lagi) dan bisa diambil sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan beras di dalam negeri,” kata Deddy.

Menurut Deddy, pada tahap awal, Pemerintah Kamboja akan mendatangkan 100.000 ton beras ke Tanah Air pada Desember 2012 dan pada 2013 sebanyak 1 juta ton. Komitmen ini terjadi setelah ada kesepakatan antara Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Perdagangan Kamboja Cham Prasidh pada 28 Agustus lalu di Kamboja.

Deddy berharap kerja sama ini bisa menguntungkan kedua negara, tidak sebatas masalah impor beras Kamboja ke Indonesia saja, tetapi juga dilanjutkan dengan ekspor berbagai produk Indonesia, seperti manufaktur, kopi, dan lain-lain ke Kamboja. “Jadi, biar kerja sama ini membawa manfaat, Indonesia juga bisa mengekspor barang manufaktur, kopi, dan lain-lain ke Kamboja,” katanya.Untuk merealisasikan kerja sama ini, Green Trade Kamboja telah menggandeng Camalay Foods Co. Ltd sebagai joint venture dan Schamrice (M) SDN BHD sebagai perusahaan yang melaksanakan operasional di lapangan, termasuk pihak yang akan menyiapkan fasilitas, pergudangan, maupun kebutuhan (stok) yang diinginkan.

Perkebunan Asing menggarap kelapa sawit dan mengekspornya ke seluruh dunia.

Perkebunan-Kelapa-Sawit

Sebaliknya, luas sawah di Indonesia menyempit sehingga rakyat Indonesia kekurangan beras. Bahkan luas Sawah di Indonesia lebih kecil daripada Thailand. Padahal Thailand yang luasnya hanya 500 ribu km2 itu cuma 1/4 Indonesia dgn jumlah penduduk hanya 1/3 Indonesia.Yang harus diperhatikan adalah luas perkebunan Kelapa Sawit dari 100 ribu ha di tahun 1967 jadi 7,8 juta hektar di tahun 2010. Naik 78x lipat. Padahal penduduk Indonesia paling cuma naik 3x lipat pada kurun waktu yang sama.dan kebanyakan adalah dikuasai oleh Asing (Investor Malaysia) Belum lagi banyak lahan-lahan kosong yang dikuasai korporasi dan dibiarkan nganggur tanpa menghasilkan, lihat saja sepanjang kanan kiri Tol Cikampek banyal lahan nganggur padahal dulu merupakan areal pertanian yang subur. Belum lagi penggusuran lahan sawah produktif untuk industri dan pemukiman penduduk.

LUAS AREAL DAN PRODUKSI PERKEBUNAN SELURUH INDONESIA MENURUT PENGUSAHAAN

Area and Production by Category of Producers

KOMODITI / Commodity : Kelapa Sawit / Oil Palm
TAHUN / Year : 1967 – 2010
TAHUN / Year LUAS AREAL / Area ( Ha ) PRODUKSI / Production ( Ton)
PR / Smallholders PBN / Government PBS / Private Jumlah / Total PR / Smallholders PBN / Government PBS / Private Jumlah / Total
1967
65,573 40,235 105,808
108,514 59,155 167,669
1968
79,209 40,451 119,660
122,369 59,075 181,444
1969
84,640 34,880 119,520
128,561 60,240 188,801
1970
86,640 46,658 133,298
147,003 69,824 216,827
1971
91,153 47,950 139,103
170,304 79,653 249,957
1972
96,562 55,497 152,059
189,261 80,203 269,464
1973
98,033 59,747 157,780
207,448 82,229 289,677
1974
117,513 64,223 181,736
243,641 104,035 347,676
1975
120,940 67,885 188,825
271,171 126,082 397,253
1976
141,333 69,772 211,105
286,096 144,910 431,006
1977
148,775 71,626 220,401
336,891 120,716 457,607
1978
163,465 86,651 250,116
336,224 165,060 501,284
1979 3,125 176,408 81,406 260,939 760 438,756 201,724 641,240
1980 6,175 199,538 88,847 294,560 770 498,858 221,544 721,172
1981 5,695 213,264 100,008 318,967 1,045 533,399 265,616 800,060
1982 8,537 224,440 96,924 329,901 2,955 598,653 285,212 886,820
1983 37,043 261,339 107,264 405,646 3,454 710,431 269,102 982,987
1984 40,552 340,511 130,958 512,021 4,031 814,015 329,144 1,147,190
1985 118,564 335,195 143,603 597,362 43,016 861,173 339,241 1,243,430
1986 129,904 332,694 144,182 606,780 53,504 912,306 384,919 1,350,729
1987 203,047 365,575 160,040 728,662 165,162 988,480 352,413 1,506,055
1988 196,279 373,409 293,171 862,859 156,148 1,102,692 454,495 1,713,335
1989 223,832 366,028 383,668 973,528 183,689 1,184,226 597,039 1,964,954
1990 291,338 372,246 463,093 1,126,677 376,950 1,247,156 788,506 2,412,612
1991 384,594 395,183 531,219 1,310,996 413,319 1,360,363 883,918 2,657,600
1992 439,468 389,761 638,241 1,467,470 699,605 1,489,745 1,076,900 3,266,250
1993 502,332 380,746 730,109 1,613,187 582,021 1,469,156 1,370,272 3,421,449
1994 572,544 386,309 845,296 1,804,149 839,334 1,571,501 1,597,227 4,008,062
1995 658,536 404,732 961,718 2,024,986 1,001,443 1,613,848 1,864,379 4,479,670
1996 738,887 426,804 1,083,823 2,249,514 1,133,547 1,706,852 2,058,259 4,898,658
1997 813,175 517,064 1,592,057 2,922,296 1,282,823 1,586,879 2,578,806 5,448,508
1998 890,506 556,640 2,113,050 3,560,196 1,344,569 1,501,747 3,084,099 5,930,415
1999 1,041,046 576,999 2,283,757 3,901,802 1,547,811 1,468,949 3,438,830 6,455,590
2000 1,166,758 588,125 2,403,194 4,158,077 1,905,653 1,460,954 3,633,901 7,000,508
2001 1,561,031 609,947 2,542,457 4,713,435 2,798,032 1,519,289 4,079,151 8,396,472
2002 1,808,424 631,566 2,627,068 5,067,058 3,426,740 1,607,734 4,587,871 9,622,345
2003 1,854,394 662,803 2,766,360 5,283,557 3,517,324 1,750,651 5,172,859 10,440,834
2004 2,220,338 605,865 2,458,520 5,284,723 3,847,157 1,617,706 5,365,526 10,830,389
2005 2,356,895 529,854 2,567,068 5,453,817 4,500,769 1,449,254 5,911,592 11,861,615
2006 2,549,572 687,428 3,357,914 6,594,914 5,783,088 2,313,729 9,254,031 17,350,848
2007 2,752,172 606,248 3,408,416 6,766,836 6,358,389 2,117,035 9,189,301 17,664,725
2008 2,881,898 602,963 3,878,986 7,363,847 6,923,042 1,938,134 8,678,612 17,539,788
2009*) 3,013,973 608,580 3,885,470 7,508,023 7,247,979 1,961,813 9,431,089 18,640,881
2010**) 3,314,663 616,575 3,893,385 7,824,623 7,774,036 2,089,908 9,980,957 19,844,901
Keterangan / Note :
*) Sementara / Preliminary
**) Estimasi / Estimation
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN
Directorate General of Estate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s