Sejahtera Lewat Padi Organik dan Tembus Pasar Ekspor

penanaman padi organik

Pertama kali diperkenalkan, penanaman padi organik di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi lelucon petani yang putus asa. Kini, 10 tahun berlalu, padi organik telah berubah jadi duta Tasikmalaya melanglang buana ke banyak negara.

Bergulat dengan kondisi tanah yang tidak subur dan sempat membuat Hendra Kribo (53), petani Kampung Cidahu, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasimalaya, khawatir dengan nasib keluarganya kelak. Dengan biaya tanam padi Rp 5 juta per hektar, empat bulan kemudian ia hanya mendapat Rp 7 juta. Berat baginya hidup layak dengan hanya Rp 500.000 per bulan. Saat itu Hendra belum paham penyebabnya. Pupuk dan pestisida kimia sudah di taburkan, tetapi bulir padi seperti malu muncul. Di sisi lain, pekerjaannya terasa lebih berat. Tanah sawah menjadi keras dan mudah pecah. Sulitnya mendapat air saat musim kemarau juga kerap menimbulkan perselisihan dengan petani lain.

Pemandangan--2Akan tetapi, itu dulu. Titik terang di dapatkan setelah mengikuti pelatihan di Sekolah Pendidikan Lapangan untuk Hama dan Tanaman bersama 12 petani Tasikmalaya lainya 2002. Salah satu materinya adalah sawah organik yang diinisiasi Frater Henri de Laulanie SJ dari Madagaskar dan Norman Uphoff dari Cornell International Institution for Food, Agriculture, and Development sejak 1983.Pelatihan itu membawa banyak pencerahan. Ia mulai paham sikapnya bertani seperti tindakan bunuh diri. Penggunaan urea dan pestisida justru membunuh mikroorganisme sawah. Padahal, mikroorganisme seperti bakteri pengurai dan cacing adalah pendukung penting kesuburan tanah.

 “Ada juga pemahaman pentingnya kompos, penggunaan bibit muda, penanaman dangkal, hingga tidak merendam sawah dengan air. Intinya merawat tanah dan padi seperti anak sendiri,” katanya.

 Sejahtera berkat Padi Organik

aneka macam berasHasil panen sungguh luar biasa. Satu hektar sawah organik menghasilkan 8 ton. Dengan harga jual beras Rp 8000-Rp 10.000 per kg, dikurangi biaya tanam sekitar Rp 2 juta, ia mendapat untung Rp 4,6 juta-Rp 6 juta per musim panen atau dua kali lipat dari ketimbang menggunakan pola sebelumnya.

“Sekarang harga jual beras organik semakin membaik, Rp 8.000-Rp 20.000 per kg. Alhamdulillah sekarang punya tiga mobil, televisi 60 inci, dan bisa menyekolahkan anak ke perguruan tinggi,” katanya.

 Hendra hanya satu dari ribuan petani Tasikmalaya yang menerapkan pola serupa. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Hendri Nugroho menyatakan, hingga November 2012 sekitar 5.000 petani menerapkan sistem organik di atas lahan seluas 10.393 hektar.

 Meski hanya 21 persen dari total luas sawah di Tasikmalaya sekitar 49.500 hektar, produksi sawah organik lebih besar ketimbang sawah konvensional 4 ton- 5 ton per hektar. “Tidak heran jika petani organik hidup lebih baik,” katanya.Atas dasar itu, menurut Hendri, Pemkab Tasikmalaya menargetkan penambahan 2.000 hektar sawah organik pada 2013. Ia yakin, selain meningkatkan kesejahteraan petani, penanaman padi organik mencegah kerusakan lahan akibat penggunaan bahan kimia berlebihan.

 “Kami ingin menjadi kabupaten organik. Sejauh ini Tasikmalaya adalah pemilik sawah organik terbesar di Indonesia,” ujar Hendri.

 Ekspor

tembus pasar eksporDi ruang seluas 150 meter x 30 meter, udara lembab khas musim hujan beradu dengan deru mesin penggilingan beras milik Gabungan Kelompok Tani Simpatik di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Tempat ini menjadi muara jerih payah petani organik Tasikmalaya.“Sebelum dikonsumsi, pengolahan satu butir beras di lakukan 50 orang, mulai dari petani, pembuat kompos, penyortir, pengemas, hingga pengirim beras ke konsumen. Beras organik menghidupkan banyak orang,” kata Ketua Gapokan Simpatik Uu Saeful Bahri.

 Siti Hamidah (35), warga paciwilan, Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya, mengatakan ikut dihidupi beras organik sejak tiga tahun terakhir. Ia bertugas menyortir dan mengemas beras bersama 39 orang lainya. Dia bekerja pukul 08.30 hingga pukul 16.30 dengan upah Rp 114.000 per minggu.

 “Sebelumnya saya tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilan suami sebagai buruh tani Rp 150.000 per minggu. Lebih enak di sini. Tidak banyak tenaga dan tidak kepanasan banding jadi buruh,” katanya.

sertifikat-imo
Contok sertifikat IMO

Uu mengatakan, kapasitas produksi penggilingan dan pengemasan mencapai 16 ton per dua minggu. Padi di dapatkan dari 2.300 petani yang tesebar di tujuh kecamatan di Tasikmalaya. Penggilingan bisa lebih cepat di lakukan setelah mendapatkan bantuan mesin canggih seharga Rp1,2 miliar dari Pemprov Jabar.Namun, permintaan dari luar negri belum bisa terpenuhi. Itu di sebabkan hanya ada 350 hektar sawah organik bersetifikat organik internasional dan perdagangan berkeadilan dari The Institute for Marketology (IMO). Sertifikat IMO adalah kunci utama memenuhi pasar di Amerika Serikat dan Uni Eropa.

“Syarat sertifikasi cukup ketat, minimal tiga tahun menerapkan pola tanam organik. Rencananya beberapa hektar sawah akan disertifikasi akhir Desember 2012,” katanya.

 Uu berharap, Pemkab Tasikmalaya membantu peningkatan jumlah sawah yang bersertifikasi IMO. Salah satunya lewat pendampingan dan sosialisasi intensif kepada petani. Semakin banyak sawah bersertifikasi IMO, semakin besar pula keuntungan dinikmati petani.Apalagi, beras impor kini laku dijual ke distributor Rp 12.000-Rp 20.000 per kg, sedangkan di pasar lokal Rp 8.000-Rp10.000 per kg.

“Lebih dari itu, beras organik membawa kebanggan. Saat banyak beras impor masuk ke Indonesia, beras organik justru di ekspor ke luar negri. Kalau kami bisa, petani daerah lain juga seharusnya mampu melakukan yang sama,” ujarnya.Budidaya padi organik telah terbukti mampu menyejahterakan petani di Tasikmalaya. Fakta ini sepantasnya ditiru petani di daerah lain sehingga bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

NB: Petani Negeri kita bisa dan mampu kalau pemerintah pemangku kebijakan punya kemauan untuk mensejahterakan petaninya, bukan mensejahterakan  para pengimpor beras yang justru mematikan petani Indonesia.Apalagi Indonesia punya potensi beras organik dengan varietas yang cukup beragam yaitu padi hitam yang merupakan kekayaan plasma nutfah Indonesia.

(Sumber : Kompas, 21 Januari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s