Para Pahlawan “Ora Rumongso” dari Gunung Kidul, Menghijaukan Bukit gersang.

Kita adalah pahlawan penyelamat umat manusia. Kita sebenarnya menjadi Pahlawan ‘Ora Rumongso’ .

Kata-kata motivatif diatas diungkapkan oleh Lurah Desa Ngeposari Kecamatan Semanu Kabupaten Gunung Kidul kepada masyarakat yang menjadi peserta ” Pelatihan Mengukur Cadangan Karbon dan Perubahannya Pada pengelolaan Hutan Komunitas” yang diadakan pada tangal 24-26 Pebruari 2012. Selama ini kita mengenal beberapa istilah pahlawan seperti Pahlawan Revolusi, Pahlawan Kemerdekaan atau setidaknya Pahlawan Tanda Jasa. Namun, kata Pahlawan ‘ora rumongso’ merupakan istilah baru yang unik dan terasa aneh.

Pahlawan ‘ora rumongso’ dikaitkan dengan orang yang tanpa kenal lelah melestarikan lingkungannya. Dalam konteks masyarakat Gunung Kidul, Pahlawan ‘Ora Rumongso’ ini disematkan pada masyarakat yang sangat gigih dan bersemangat menjadikan lingkungan sekitarnya menjadi hijau dengan menanam pohon. Mereka terus menghijaukan bukit yang gersang hingga tanpa disadari banyak mata air yang muncul, aliran air ke sawah menjadi lancar, erosi dan longsor berkurang dan tutupan hutan semakin bertambah luas.Menisbatkan masyarakat Gunung Kidul yang menanam pohon sebagai pahlawan tidaklah berlebihan. Era tahun 1970-an Gunung Kidul merupakan daerah yang gersang. Daerah-daerah perbukitan yang berbatu dan berkapur terlihat coklat karena minimnya pepohonan yang tumbuh. Dari sisi kesuburan tanah, tidaklah mudah membudidayakan pohon di tanah yang gersang dan berbatu.

Seiring dengan kesadaran semua pihak, khususnya masyarakat yang memiliki budaya menanam pohon yang kuat, kini Gunung Kidul menjadi daerah ijo royo-royo dan sebagai daerah percontohan pengelolaah hutan berbasis komunitas. Banyak lembaga mauun kelompok masyarakat dari berbagai daerah datang ke daerah ini untuk belajar bagaimana masyarakat bisa mengelola hutan dengan baik.

1330096269630451209

Pepohonan Jati yang tumbuh dan terawat di lahan masyarakat

Fakta hijaunya Gunung Kidul akan kita saksikan bila kita melakukan perjalanan dari Sleman menuju Gunung Kidul. Mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan pepohonan jati yang rimbun di kanan dan kiri jalan. Pepohonan Jati itu tumbuh dengan subur di lahan masyarakat yang dibawahnya juga ditanam tanaman semusim seperti padi dan palawija. Hampir tak ada lahan yang kosong dari pepohonan di daerah Gunung Kidul. Menurut M. Taufik, staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul, budaya agraris disini adaah budaya menanam tanaman kayu atau pohon. Budaya ini sesuai dengan filosofi pada Gunungan wayang kulit dimana latarnya berupa pohon besar yang dihuni oleh berbagai satwa. Wajar, bila keberhasilan program reboisasi dan penghijauan di Gunung Kidul dijadikan model oleh daerah-daerah lain di Indonesia.

1330096180225911841

Selama ini banyak orang berpikir bahwa hutan yang dikelola oleh masyarakat atau komunitas cenderung apa adanya atau asal-asalan. Asal menanam lalu dibiarkan tumbuh sendiri. Pandangan seperti itu sirna ketika melihat langsung bagaimana masyarakat di Gunung Kidul mengelola hutan komunitas. Mereka memiliki peta areal kerja, data potensi hutan, batas-batas hutan yang jelas dan pembagian pengelolaan yang jelas dan tertata. Dokumen-dokumen pengelolaan tersedia dan tata kelola lembaga komunitasnya juga berjalan sesuai kesepakatan.

Beberapa areal hutan yang dikelola oleh masyarakat di Gunung Kidul sudah dikelola dengan mengacu pada standar pengelolaan hutan lestari. Contohnya di Desa Ngeposari Kecamatan Semanu terdapat Hutan Kemasyarakatan yang dikelola oleh Kelompok Tani Sedyo Makmur telah mendapat Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Kemasyarakatan (IUPHHK HKm) dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Ada juga kelompok tani hutan di Hutan Rakyat di Kecamatan Kedung Keris yang telah mendapat Sertifikat Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat Lestari (PHBML) dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan VLK (Verifikasi Legalitas Kayu) dari Kemenhut.

13300963501149786794

Saat ini, beberapa kelompok pengelola hutan komunitas di Gunung Kidul mendapat pendampingan dan pelatihan dari berbagai lembaga baik pemerintah maupun LSM untuk dipersiapkan mendapatkan imbal jasa karbon dalam skema Voluntary Carbon Market. Padahal, skema VCM ini tidak mudah dipenuhi karena beratnya persyaratan. Dengan modal sosial masyarakat yang bagus dan dukungan berbagai pihak, mereka bisa dibimbing oleh pendamping untuk memenuhi berbgai persyaratan tersebut.

Kunci keberhasilan pengelolaah hutan berbasis komunitas di Gunung Kidul terletak pada kolaborasi yang sangat baik antara pemerintah daerah, LSM pendamping dan kelompok tani hutan. Pemerintah daerah memotivasi melalui program pembinaan dan pemberdayaan, LSM pendamping membantu masyarakat mengelola hutan sesuai standar professional dan kelompok masyarakat kompak dan satu langkah. Seperti yang tertera pada Dokumen Prinsip yang ditegakkan oleh KTH Sedyomakmur yaitu “Kompak, Terbuka dan Demokratis”

Semoga Pahlawan ‘Ora Rumongso’ ini semakin banyak lahir dan tumbuh di negeri kita agar hutan lestari dan masyarakat sejahtera.

Sama seperti halnya waras farm adalah dulunya pegunungan yang gersang karena hutanya sudah dijarah oleh masyarakat, ketika hutan habis masyarakat kehilangan sumber ekonomi  yang menopang kehidupnya . apalagi mayoritas penduduk di pingir hutan dan pegunungan adalah berpendidikan rendah. kewajiban kita menyadarkan mereka bahwa hutan adalah sumber penghidupan, sumber ekonomi, sumber mata air yang bila dirusak akan mendatangkan bencana alam juga bencana ekonomi bagi warga sekitarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s